Skip to content
Ilmu Itu lebih baik dari kekayaan, karena kekayaan itu harus dijaga, sedangkan ilmu itu menjaga kamu.

(Ali Bin Abi Thalib).

Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

(Imam Syafi’i).

Suatu pengetahuan (ilmu) jika tidak manfaat untukmu, maka tidak akan membahayakanmu.

(Umar Bin Khathab).

“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.

(Abu Bakar As Shiddiq RA).

Menjadi Wali Kelas yang Menginspirasi: Nur Hikmah Perkuat Peran Wali Kelas sebagai “Orang Tua Kedua”

By | Published | No Comments

Bekasi, 29 Agustus 2026 — Yayasan Wakaf Nur Hikmah Bekasi menyelenggarakan Pelatihan Kewalikelasan bagi para wali kelas di lingkungan Yayasan Wakaf Nur Hikmah Bekasi, pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 09.00–12.00 WIB. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar yayasan untuk memperkuat kapasitas wali kelas, khususnya dalam membangun komunikasi, pelayanan, pendampingan, dan hubungan yang positif dengan peserta didik maupun orang tua. Lebih dari sekadar pengelola kelas, wali kelas dipandang sebagai sosok yang memiliki posisi strategis dalam menghadirkan wajah sekolah secara langsung di hadapan siswa dan keluarga.

Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Wakaf Nur Hikmah Bekasi, Ustadz Anis Baswedan, menekankan pentingnya wali kelas memberikan pengalaman terbaik kepada peserta didik dan orang tua. Menurutnya, persepsi orang tua terhadap sekolah sering kali terbentuk dari interaksi mereka dengan wali kelas. “Pastikan jempol orang tua menjadi alat marketing sekolah. Seperti apa sekolah kita, salah satunya tercermin dari apa yang mereka ceritakan ketika berbicara dengan orang lain,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan. Karena itu, pelayanan dan komunikasi wali kelas bukan sekadar urusan administratif, tetapi bagian penting dari membangun kepercayaan dan citra positif sekolah.

Materi pelatihan disampaikan oleh Ustadzah Julaeha, M.Pd., selaku Manajer SDM, yang menguatkan pemahaman tentang peran wali kelas sebagai pendamping, pengarah, penghubung, sekaligus figur teladan bagi peserta didik. Wali kelas dituntut mampu mengenali karakter anak, membangun kedekatan yang sehat, menangani persoalan dengan bijak, serta menciptakan suasana kelas yang aman dan bertumbuh. Dalam konteks tersebut, wali kelas bukan hanya bertugas memastikan kelas berjalan tertib, tetapi hadir untuk memastikan setiap anak merasa diperhatikan, dihargai, dan memiliki tempat untuk berkembang.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Ustadz Agusriwarman, S.E., M.Pd., yang mengangkat aspek komunikasi dan pelayanan wali kelas. Disampaikan bahwa komunikasi wali kelas dengan orang tua harus dibangun dengan prinsip cepat merespons, tepat menyampaikan pesan, empatik dalam menghadapi persoalan, serta mampu mengubah komunikasi menjadi kepercayaan. Wali kelas pada akhirnya menjadi salah satu titik temu paling dekat antara sekolah dan rumah. Karena itu, setiap pesan, respons, dan sikap wali kelas dapat meninggalkan kesan yang jauh lebih kuat daripada berbagai materi promosi sekolah. Dalam bahasa sederhana: sekolah boleh memiliki program terbaik, tetapi pengalaman orang tua sering kali ditentukan oleh bagaimana sekolah hadir melalui wali kelasnya.

Salah seorang wali kelas SDIT Nur Hikmah turut memberikan kesan bahwa menjadi wali kelas bukan sekadar mendapatkan tugas tambahan, melainkan sebuah amanah untuk membersamai pertumbuhan anak. Menurutnya, proses mendampingi siswa membuat seorang wali kelas belajar untuk lebih sabar, lebih peka, dan lebih memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda. Pelatihan ini diharapkan menjadi momentum untuk melakukan refresh dan menyamakan kembali visi kewalikelasan di lingkungan Yayasan Wakaf Nur Hikmah Bekasi. Sebab, wali kelas yang baik tidak hanya mengelola kelas; ia membangun kepercayaan, menumbuhkan karakter, dan meninggalkan jejak kebaikan dalam perjalanan hidup anak-anak yang didampinginya.