Mendidik Generasi Mulia Melalui Ketenangan Jiwa dan Kedekatan kepada Allah

(Disusun kembali dari poin-poin ringkasan ceramah Ust. Farid Ahmad Okbah, Lc, MA)
Profesi Pendidik dan Permata Jiwa
Pendidik adalah profesi yang sangat mulia. Dari tangan para pendidik lahir generasi-generasi mulia yang hebat, sebagaimana yang saya tulis dalam buku saya, From Zero to Hero.
Anak-anak didik kita ibarat permata. Pertanyaannya, bagaimana cara kita menuntun permata tersebut agar dapat memancarkan cahayanya secara maksimal? Sayangnya, hari ini kita menyaksikan banyak kontradiksi. Apa yang dibangun dan diajarkan di sekolah sering kali dirusak oleh situasi atau pengasuhan di rumah. Oleh karena itu, tema besar yang harus kita perjuangkan bersama adalah “Bahagia Dunia Akhirat“.
Siapa di antara kita yang tidak ingin bahagia? Namun, apakah sebenarnya arti kebahagiaan itu, dan bagaimana cara nyata untuk mencapainya?
Kebahagiaan Semu dalam Pandangan Materi
Banyak orang menganggap materi adalah satu-satunya faktor penentu kebahagiaan. Ini adalah pemahaman yang sangat keliru. Jangan sampai kita mengalami kecemasan berlebihan (anxiety) hanya karena mengkhawatirkan pemenuhan kebutuhan materi semata.
Sebagai contoh, di Australia, pemerintah memiliki sistem jaminan sosial yang sangat baik. Jika ada warga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pribadinya, negara akan mengambil alih dengan memberikan insentif hingga sekitar 1.000 AUD / bulan (JobSeeker Payment melalui Centrelink ), untuk membantu mencukupi kebutuhan mereka. Secara materi, mereka sangat berkecukupan. Namun realitasnya, banyak di antara mereka yang kurang bahagia. Bahkan muncul fenomena dan slogan populer: “I hate Monday” (Aku benci hari Senin).
Sebaliknya, kita sebagai umat Islam diajarkan untuk menyambut hari Senin dengan gembira. Kita bahkan disunahkan berpuasa pada hari Senin sebagai bentuk ekspresi rasa syukur dan kebahagiaan atas kelahiran Rasulullah SAW.
Ketika saya tinggal di Australia, saya merasa sangat bahagia. Di sana saya dikenal sebagai orang yang selalu tersenyum gembira setiap hari Senin, hingga beberapa rekan menganggap kehadiran saya membawa kedamaian. Alhasil, banyak teman-teman di sana yang menjadikan saya sebagai tempat berkonsultasi dan curah hati (curhat) terkait berbagai permasalahan hidup mereka.
Dari pengalaman ini, berlaku sebuah kaidah penting:
“Orang yang tidak mengenal Allah, mustahil bisa merasakan kebahagiaan sejati.”
Hakikat Manusia: Jasad dan Ruhani
Mengapa materi tidak bisa menjamin kebahagiaan? Jawabannya terletak pada hakikat penciptaan manusia itu sendiri. Manusia terdiri atas dua unsur: jasad (fisik) dan ruhani (jiwa/ruh).
Jasad kita diciptakan dari tanah, membutuhkan hal-hal bersifat material dari tanah, dan kelak akan kembali menjadi tanah. Hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah Sad ayat 71–72:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (QS. Sad [38]: 71–72)
Sementara itu, jiwa dan ruh kita adalah unsur halus yang mengenal Allah. Para ilmuwan dari seluruh dunia telah berulang kali mencoba meneliti dan membahas hakikat ruh, namun mereka tidak mampu mengungkapnya melainkan hanya sedikit. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Al-Isra’ ayat 85:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’ [17]: 85)
Sejak azali, ruh manusia telah mengikat janji setia dengan Allah SWT, sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-A’raf ayat 172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا
Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (QS. Al-A’raf [7]: 172)
Karena adanya ikatan perjanjian azali ini, manusia tidak akan pernah bisa sehat dan bahagia secara utuh kecuali jika jiwanya dekat dan taat kepada Allah. Jika manusia jauh dari Allah, ruhaninya akan merasa hampa dan merana selamanya.
Realitas Kesehatan Mental dan Solusi Islam
Fakta membuktikan bahwa kemakmuran materi tidak otomatis menjamin ketenangan jiwa. Negara Swedia, misalnya, adalah salah satu negara paling makmur di dunia, namun memiliki tingkat bunuh diri yang sangat tinggi—bahkan menyediakan fasilitas khusus untuk tindakan tersebut. Fenomena serupa juga terjadi di negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Prancis.
Dalam ilmu psikologi, terdapat empat tingkatan atau tanda seseorang yang tidak bahagia:
- Anxiety (Kecemasan yang berlebihan)
- Stres yang berlanjut pada gangguan tidur (insomnia)
- Depresi
- Keinginan atau tindakan bunuh diri
Ketika menghadapi berbagai ujian dan masalah hidup, Islam mengajarkan kita untuk kembali kepada Allah melalui salat dan membaca Al-Qur’an.
Saya memiliki pengalaman pribadi terkait hal ini. Suatu ketika, saya mengalami sakit yang cukup parah dan divonis oleh dokter harus menjalani operasi dengan biaya yang besar. Namun, saya mengambil keputusan untuk tidak memilih jalur operasi. Uang yang terkumpul justru saya gunakan untuk membeli madu Bima, lalu membagikannya secara cuma-cuma kepada para jamaah. Selepas bersedekah, saya berdoa agar Allah mengangkat penyakit saya. Alhamdulillah, setelah itu saya sembuh total dan tidak perlu menjalani operasi sama sekali.
Kebahagiaan Menurut Sains Barat vs. Ajaran Islam
Dalam ilmu neurosains (ilmu saraf otak), kebahagiaan dinilai dari sudut pandang biologis semata, yaitu berpusat di frontal cortex (korteks frontal) yang mengontrol pelepasan hormon kebahagiaan seperti dopamin.
Namun menurut ajaran Islam, pusat kebahagiaan sejati bukanlah terletak pada organ otak, melainkan pada kalbu (hati).
Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)
Serta firman-Nya dalam Surah Taha ayat 14:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Sungguh, Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku. (QS. Taha [20]: 14)
Maka, seharusnya orang yang paling bahagia di dunia ini adalah orang-orang yang mendirikan salat dan senantiasa berdzikir. Mereka adalah golongan Ulul Albab (orang-orang yang berakal), sebagaimana digambarkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190–192:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab). (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190–191)
Pelajaran dari Kebiasaan Hewan
Sebagai analogi sederhana, perhatikanlah hewan ternak seperti kambing. Mengapa jumlah mereka tetap banyak dan dagingnya selalu dinikmati banyak orang? Karena kambing memiliki kebiasaan hidup yang teratur dan baik: bangun sebelum waktu Subuh, tidak tidur lagi setelahnya, langsung bergerak mencari rezeki, dan sudah kembali ke kandangnya sebelum Maghrib tiba. Kebiasaan hidup disiplin dan sesuai ritme alam ini membawa keberkahan.
Jalan Mencapai Kebahagiaan Sejati
1. Melakukan 7 Jenis Dzikir
Ibnul Jauzi meneladani bahwa dzikir bukan hanya ucapan di bibir, melainkan mencakup seluruh anggota tubuh:
- Dzikir lisan: Mengucapkan kalimat-kalimat thayyibah dan membaca Al-Qur’an.
- Dzikir telinga: Mendengarkan hal-hal yang baik dan diridhai Allah.
- Dzikir mata: Memperhatikan kebesaran Allah hingga menangis karena takut dan cinta kepada-Nya.
- Dzikir tangan: Menggunakannya untuk memberi, bersedekah, dan menolong sesama.
- Dzikir badan: Menggerakkan tubuh untuk mengajar, bekerja keras, dan beribadah.
- Dzikir kalbu: Menjaga keheningan dan keikhlasan hati yang selalu terikat kepada Allah.
- Dzikir ruh: Senantiasa mengingat kematian agar hidup lebih terarah dan bersiap menghadapi akhirat.
2. Menjadi Wali Allah (Perspektif Islam vs. Teori Maslow)
Psikolog Barat, Abraham Maslow, merumuskan Hierarki Kebutuhan manusia yang terdiri dari kebutuhan pokok, rasa aman, cinta/pasangan, penghargaan/kehormatan, dan kepuasan diri (aktualisasi).
Namun, Islam menawarkan tingkat kebahagiaan tertinggi yang melampaui teori Maslow, yaitu menjadi Wali Allah. Ciri utama Wali Allah adalah Iman dan Takwa, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Yunus ayat 62–64:
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung. (QS. Yunus [10]: 62–64)
Penutup
Sebagai pendidik, kita harus terlebih dahulu merasakan kebahagiaan sejati yang bersumber dari kedekatan kepada Allah SWT. Jika pendidiknya bahagia, maka kebahagiaan tersebut akan menular kepada para siswa. Dengan demikian, kita dapat bersama-sama mencetak generasi hebat yang berorientasi pada kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
