Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
(Imam Syafi’i).
“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.
(Abu Bakar As Shiddiq RA).
By LPI nurhikmah | Published | No Comments
Secara sederhana, metode mengajar adalah sebuah istilah untuk sebuah cara atau suatu proses yang dilakukan dalam pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pembelajaran. Istilah tentu saja adalah istilah baru yang belum ada di zaman munculnya islam. Istilah ini berkembang setelah kelembagaan pelayanan pendidikan secara mapan yang telah berlangsung kemudian.
Ketiadaan istilah pada zaman itu, bukan berarti tidak ada praktiknya. Istilah hanyalah sebuah penamaan teoritis formal di dalam sebuah disiplin ilmu. Secara hakikatnya tentu kita tidak boleh meniadakan hal yang memang benar-benar ada. Bahkan justru tanpa disadari praktik tarbiyah zaman itu bisa diambil sebagai cikal bakal lahirnya istilah metode itu sendiri.
Judul yang diberikan (Metode Mengajar Ala Rasulullah) tidaklah bermaksud untuk menjadi tumbnail atau sekedar clickbait agar pembaca tertarik membaca. Karena kita sebagai umatnya harus meyakininya dengan beberapa argumentasi berikut:
Apakah Rasulullah seorang guru? Rasulullah adalah murabbi dunia akhirat, lebih dari sekedar guru. Apakah Rasulullah mengajar? Tentu rasulullah mengajar karena salah satu sifatnya yaitu tabligh. Apakah Rasulullah menggunakan metode? Secara istilah formal memang tidak, tapi siapakah yang amat lalai sehingga mengatakan tidak?, jika cara (kaifiyah dan manhaj) dalam mendidik sahabatnya menjadi bahan penelitian para pakar pendidikan dunia. Salah satu rujukan literatur yang sangat lengkap membahas hal ini adalah kitab Ar-Rasul al-Mu’allim wa Asalibuhu fi at-Ta’lim karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, yang mendokumentasikan sekitar 40 metode mengajar Nabi.
Membayangkan Rasulullah setiap hari berdiri diatas mimbar lalu menyampaikan wahyu atau hadits secara satu arah dengan metode ceramah saja adalah sebuah kemalasan dalam berliterasi. Telah banyak buku yang membahas bagaimana kelihaian Rasulullah dalam menyampaikan risalah yang Allah amanahkan kepadanya.
Rasulullah sebagai murabbi tentu membutuhkan kaifiyah praktis yang cerdas dalam penyampaian. Penulis meyakini praktik cerdas ini diilhamkan langsung oleh Allah kepada Rasul-Nya. Mengapa rasulullah merasa perlu membangun kecerdasan dalam berfikir? karena untuk membangun peradaban yang unggul harus dipastikan setiap generasi harus terdidik dengan cara yang baik. baca :mata uang peradaban.
Berikut beberapa metode yang berhasil penulis rangkum, berdasarkan hadits yang muncul di beberapa buku bacaan.
Dialog dan Tanya Jawab
Rasulullah SAW sering memulai pengajaran dengan mengajukan pertanyaan untuk memicu rasa penasaran para sahabatnya. Selain itu, metode tanya jawab ini juga dapat mengundang keterlibatan aktif para sahabat. Hal ini membuat situasi menjadi aktif dan tidak pasif. Metode interaktif ini sangat membantu dalam membuka kebekuan berpikir dan memastikan pemahaman yang lebih dalam.
Metode tanya jawab ini bisa kita lihat, salah satunya di hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ketika Rasulullah bertanya kepada sahabatnya tentang “al muflis” (orang yang bangkrut) di akhirat. Istilah kata “muflis” (orang yang bangkrut di akhirat) menjadi pertanyaan yang membuat para sahabat merasa penasaran dan menimbulkan rasa keingin-tahuan yang tinggi.
Perumpamaan dan Analogi (Amtsal)
Metode perumpamaan ini sering digunakan Rasulullah ketika menjelaskan konsep abstrak. Rasulullah sering menggunakan perumpamaan yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sangat tepat karena salah satu fungsi utama perumpamaan atau analogi adalah menjembatani pemahaman dengan cara membandingkan hal yang asing atau abstrak dengan hal yang sudah dikenal atau konkret.
Hal diatas dapat dilihat salah satunya, pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy’ari, ketika Rasulullah mengumpamakan orang mukmin yang membaca Al Qur’an seperti buah utrujah. Perumpamaan ini memberikan sebuah jembatan pemahaman yang amat mudah diterima oleh akal.
Demonstrasi dan Praktik Langsung
Dalam dunia pendidikan, metode ini merupakan cara penyajian pelajaran dengan meragakan dan mempertunjukkan kepada peserta didik tentang suatu proses, situasi, atau benda tertentu. Metode ini sangat menarik karena seorang guru dapat langsung terlibat pada sebuah konten praktik, tanpa banyak teori dan ceramah.
Rasulullah sering melakukannya utamanya pada praktik ibadah seperti sholat, wudhu, tayamum, dan lain-lain. Seperti haditsnya, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat”. Selain untuk menjelaskan tentang perkara ibadah Rasulullah juga menggunakan praktik langsung ketika menjelaskan perihal life skill seperti menguliti kambing, dan lain-lain.
Penggunaan Ilustrasi atau Media Visual
Dalam interaksi Rasulullah dengan para sahabat, Beberapa kali rasulullah menggunakan media ilustrasi atau visual. Dalam dunia pendidikan penggunaan media sangat penting karena dapat menarik perhatian dari para peserta didik. Ilustrasi yang Rasulullah berikan memang sangatlah sederhana dan tidak berlebihan dalam penggunaannya. Contohnya seperti Rasulullah menggambarkan dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya yang berdekatan untuk menggambarkan dekatnya Rasulullah dengan orang yang menyantuni anak yatim di akhirat kelak.

Sesekali beliau menggunakan media sederhana seperti membuat garis-garis di atas pasir untuk menjelaskan “Jalan yang Lurus” dan “Jalan yang Menyimpang” guna memberikan gambaran visual kepada para sahabat. Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah SAW menggambar sebuah persegi empat. Di tengahnya beliau menarik garis lurus yang memanjang keluar melewati batas persegi tersebut. Lalu, beliau membuat garis-garis kecil di samping garis tengah itu, untuk menggambarkan antara usia, cita-cita atau angan-angan, dan ujian di dalam hidup.
Selain metode yang tersebut diatas, banyak metode cerdas lain yang bisa kita temukan dalam hadits-hadits dan sirahnya. Selamat berliterasi. HK11