20 Pribadi Guru Menurut KH. Hasyim Asy’ari

CategoriesArtikel AgamaArtikel PendidikanGuru Menulis

Kepribadian bagi seorang guru adalah bukan hanya penting, melainkan kewajiban yang harus terpenuhi. Kewajiban yang harus melekat apabila ingin menjadi seorang guru. Mengapa demikian? Karena guru memegang peranan penting dalam sebuah perjalanan kesuksesan sebuah pendidikan. Bukan hanya pendidikan dalam sebuah kelas, atau sekolah, akan tetapi lebih dari itu, pendidikan pada sebuah generasi. 

Ada sebuah maqola yang masyhur yaitu “At-thariqah ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu minat-thariqah, wa ruhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi.“ yang artinya “Metode itu lebih penting daripada materi (pelajaran), guru lebih penting daripada metode, dan jiwa (ruh) seorang guru itu jauh lebih penting daripada guru itu sendiri.” Maqolah yang masyhur ini menekankan bahwa guru itu bukan lah bagian dari pendidikan, akan tetapi pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, kepribadian seorang guru amat berpengaruh bagi pendidikan generasi bangsa.

Sebetulnya, pemerintah telah menetapkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Pasal 10 ayat 1), yang menyatakan, bahwa terdapat 3 setidak-tidaknya kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh seorang guru profesional di Indonesia, diantaranya adalah; Kompetensi Kognitif (Pengetahuan), Afektif (Sikap), dan Psikomotorik (Keterampilan).

Kompetensi Pedagogik, merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Kepribadian, merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi Profesional, adalah kemampuan guru dalam menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam. Dan Kompetensi Sosial, yang merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

Namun, kita sebagai praktisi pendidikan Islam, merasa perlu membreakdown hal tersebut sehingga lebih terperinci dan memenuhi aspek-aspek yang lengkap. Dalam literatur keislaman banyak kita temui, kitab-kitab yang memang khusus membahas mengenai karakter dan kepribadian guru dan murid ketika berada dalam lingkungan pendidikan. 

Kitab-kitab tersebut telah lama menjadi semacam rujukan bagi banyak guru, ustadz, ulama yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.Salah satunya karya ulama dan pahlawan kebanggaan kita Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari membagi etika pendidik menjadi beberapa bagian. Berikut adalah ringkasan 20 pribadi guru menurut KH Hasyim Asy’ari yang diambil dari salah satu karya gemilangnya yaitu, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim :

  1. Muroqobah: Selalu merasa diawasi oleh Allah SWT, baik di tempat sunyi maupun di keramaian.
  2. Khauf: Senantiasa menanamkan rasa takut kepada Allah dalam setiap ucapan, diam, dan tindakan.
  3. Ketenangan: Membiasakan diri bersikap tenang, berwibawa, dan menjaga ketenteraman jiwa.
  4. Wara‘: Sangat berhati-hati dan menjaga diri dari hal-hal yang syubhat (samar hukumnya) serta perkara makruh.
  5. Tawadhu‘: Menanamkan sifat rendah hati kepada siapa pun dan menjauhi sifat sombong.
  6. Khusyuk: Melazimkan ketundukan, kepatuhan, dan kekhusyukan dalam beribadah kepada Allah.
  7. Tawakal: Menggantungkan dan memasrahkan segala urusan dunia maupun akhirat hanya kepada Allah.
  8. Ikhlas terhadap Dunia: Tidak menjadikan ilmu sebagai alat meraih kemewahan, harta, popularitas, atau jabatan duniawi.
  9. Zuhud dan Qana’ah: Menjaga pola hidup sederhana dan merasa cukup dengan rezeki halal yang ada untuk diri dan keluarga.
  10. Menjaga Kehormatan Profesi: Menjauhi pekerjaan atau mata pencaharian yang dipandang rendah, hina, atau makruh secara syariat dan adat.
  11. Menghindari Sosial: Menjauhi tempat-tempat yang berpotensi memicu prasangka buruk orang lain terhadap dirinya.
  12. Istiqamah: Teguh dalam mengamalkan hukum-hukum agama dan menegakkan syiar Islam.
  13. Melestarikan Sunnah: Berjuang menghidupkan tradisi sunnah Nabi Muhammad SAW.
  14. Menghiasi Diri dengan Sunnah: Membiasakan amalan sunnah secara personal, seperti rutin membaca Al-Qur’an dan berzikir.
  15. Berakhlak Mulia: Memperlakukan dan bergaul dengan sesama manusia menggunakan budi pekerti yang luhur dan wajah yang ramah.
  16. Tazkiyatun Nafs: Konsisten membersihkan jiwa dan raga dari penyakit hati serta menghiasinya dengan sifat terpuji.
  17. Antusias Belajar: Selalu bersemangat meningkatkan kualitas keilmuan dan istiqamah dalam beribadah.
  18. Rendah Hati dalam Belajar: Tidak segan bertanya dan menyerap ilmu dari orang lain, meskipun orang itu lebih muda, lebih rendah jabatannya, atau nasabnya.
  19. Produktif Menulis: Menyibukkan diri dengan menulis, meringkas, atau menyusun kitab/karya tulis yang bermanfaat bagi umat jika mampu.
  20. Adil Memandang Murid: Tidak mengistimewakan sebagian murid hanya karena latar belakang jabatan, kekayaan, atau status sosial orang tuanya

Demikianlah 20 karakter mulia di dalam Islam menurut KH. Hasyim Asy’ari. Karakter yang telah diuraikan di dalam salah satu masterpiecenya ini, telah menjadi rujukan bagi para murid dan guru. Mudah-mudahan kita mampu mewarnai diri kita dengan karakter mulai yang telah diuraikan, demi mencapai tujuan pendidikan pada generasi bangsa kita yang kita cintai ini. (Amin ya rabbal ‘alamin)

About the author