Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
(Imam Syafi’i).
“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.
(Abu Bakar As Shiddiq RA).
By LPI nurhikmah | Published | No Comments
Kepribadian bagi seorang guru bukan hanya penting, melainkan juga kewajiban yang harus terpenuhi. Kewajiban yang harus melekat apabila ingin menjadi seorang guru. Mengapa demikian? Karena guru memegang peranan penting dalam sebuah perjalanan kesuksesan sebuah pendidikan. Bukan hanya pendidikan dalam sebuah kelas, atau sekolah, akan tetapi lebih dari itu, pendidikan pada sebuah generasi.
Ada sebuah maqolah yang masyhur yaitu “At-thariqah ahammu minal maddah, wal mudarris ahammu minat-thariqah, wa ruhul mudarris ahammu minal mudarris nafsihi.“ yang artinya “Metode itu lebih penting daripada materi (pelajaran), guru lebih penting daripada metode, dan jiwa (ruh) seorang guru itu jauh lebih penting daripada guru itu sendiri.” Maqolah yang masyhur ini menekankan bahwa guru itu bukan lah bagian dari pendidikan, akan tetapi pendidikan itu sendiri. Oleh karena itu, kepribadian seorang guru amat berpengaruh bagi pendidikan generasi bangsa.
Sebetulnya, pemerintah telah menetapkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Pasal 10 ayat 1), yang menyatakan, bahwa terdapat 3 setidak-tidaknya kompetensi utama yang wajib dimiliki oleh seorang guru profesional di Indonesia, diantaranya adalah; Kompetensi Kognitif (Pengetahuan), Afektif (Sikap), dan Psikomotorik (Keterampilan).
Kompetensi Pedagogik, merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi Kepribadian, merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi Profesional, adalah kemampuan guru dalam menguasai materi pembelajaran secara luas dan mendalam. Dan Kompetensi Sosial, yang merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Namun, kita sebagai praktisi pendidikan Islam, merasa perlu membreakdown hal tersebut sehingga lebih terperinci dan memenuhi aspek-aspek yang lengkap. Dalam literatur keislaman banyak kita temui, kitab-kitab yang memang khusus membahas mengenai karakter dan kepribadian guru dan murid ketika berada dalam lingkungan pendidikan.
Kitab-kitab tersebut telah lama menjadi semacam rujukan bagi banyak guru, ustadz, ulama yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.Salah satunya karya ulama dan pahlawan kebanggaan kita Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari membagi etika pendidik menjadi beberapa bagian. Berikut adalah ringkasan 20 pribadi guru menurut KH Hasyim Asy’ari yang diambil dari salah satu karya gemilangnya yaitu, kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim :
Demikianlah 20 karakter mulia di dalam Islam menurut KH. Hasyim Asy’ari. Karakter yang telah diuraikan di dalam salah satu masterpiecenya ini, telah menjadi rujukan bagi para murid dan guru. Mudah-mudahan kita mampu mewarnai diri kita dengan karakter mulai yang telah diuraikan, demi mencapai tujuan pendidikan pada generasi bangsa kita yang kita cintai ini. (Amin ya rabbal ‘alamin)