Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
(Imam Syafi’i).
“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.
(Abu Bakar As Shiddiq RA).
By LPI nurhikmah | Published | No Comments
Hari ini, Jumat, 18 September 2026, seluruh civitas Nur Hikmah mengawali hari dengan melaksanakan Shalat Istisqa. Semua siswa SMP, SMA, dewan guru dan pegawai memenuhi lapangan untuk tujuan yang sama, memohon kepada Allah untuk menurunkan karunianya.
Shalat Istisqa bukan hanya sekedar shalat yang dianjurkan untuk memohon kepada Allah agar diturunkan hujan, lebih dari itu, Shalat Istisqa adalah bukti ketundukan kita kepada Allah. Ketundukan bukan hanya inti dari pokok ajaran Islam akan tetapi Islam itu sendiri.
Islam secara bahasa adalah (aslama – yuslimu – islaman) yang artinya pasrah atau tunduk. Ketundukan dan kepasrahan itu dilakukan agar kita mendapatkan sebuah keselamatan di dunia maupun di akhirat.
Dengan melaksanakan shalat Istisqa secara tidak langsung kita mengajarkan dan mempraktikan sebuah kepasrahan dan ketundukan kita kepada Allah atas segala urusan-urusan kita. Dimana, selama ini mungkin sebagai manusia kita setiap hari beribadah, namun belum merasa benar-benar tunduk. Membungkukan punggung kita setara dan sejajar, namun dihadapan manusia kita masih sombong. Menjejakkan kepala ke dasar lantai, bersujud, tapi hati kita tetap meninggi. Kita terkadang masih abai terhadap urgensi dan arti dari ibadah itu sendiri.
Istisqa, adalah shalat sunnah yang membuktikan bahwa kita penuh kelemahan, sadar akan kesombongan diri dan beristighfar kepada Allah. Istisqa bukan hanya untuk memohon hujan tapi memohon ampunan agar Allah mengampuni dosa kita dan menurunkan makhluknya yang berupa hujan yang bermanfaat.
Ini artinya, di dalam Islam kita tidak hanya diajarkan untuk cerdas dan pintar dalam hidup tapi juga harus tunduk. Di dalam hidup kita bukan hanya diajarkan untuk berprestasi dan mewarnai hidup kita, akan harus benar benar berpasrah. Bukan hanya diajarkan optiomis dalam hidup tapi juga harus benar-benar tawakal.
Allah berfirman di Surat Al Baqarah ayat 112:
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Tidak demikian! Barangsiapa menyerahkan diri (tunduk) sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
Ketundukan dan kepasrahan ini bukanlah sebuah kekurangan atau pesimisme, akan tetapi sebuah ciri dan kelebihan umat ini.
HK11