Suasana berbeda terasa di SMAIT Nur Hikmah Bekasi pada Sabtu, 23 Mei 2026. Tujuh ruangan disiapkan menjadi ruang presentasi kehidupan, tempat para siswa kelas XI memaparkan proposal hidup mereka di hadapan kedua orangtua masing-masing. Dalam setiap ruangan hadir dua guru pendamping yang membersamai jalannya presentasi, menyaksikan bagaimana para siswa mencoba menjelaskan arah hidup, cita-cita, target masa depan, hingga langkah-langkah yang akan mereka tempuh untuk sampai ke tujuan tersebut.

Satu per satu siswa berdiri dengan penuh kesungguhan. Ada yang berbicara tentang impian menjadi dokter, pendidik, pengusaha, hingga pejuang sosial. Mereka tidak hanya menyampaikan mimpi, tetapi juga peta perjalanan hidup: bagaimana mereka ingin belajar, memperbaiki diri, menjaga nilai-nilai Islam, dan menyiapkan kontribusi untuk masyarakat. Di hadapan orangtuanya sendiri, para siswa seolah sedang membuka lembar masa depan yang selama ini hanya tersimpan dalam kepala dan doa-doa mereka.

Momen itu menjadi sangat emosional ketika beberapa orangtua tampak menahan haru. Ada yang berkaca-kaca, ada pula yang tersenyum sambil terus memperhatikan paparan anaknya. Salah seorang orangtua menyampaikan bahwa kegiatan ini membuat dirinya benar-benar melihat “arah” dari perjalanan anaknya. “Selama ini kami hanya menyuruh anak belajar. Tapi hari ini kami seperti diperlihatkan peta masa depannya. Rasanya menyentuh sekali karena ternyata anak-anak kita punya mimpi dan cara berpikir yang jauh lebih dalam dari yang selama ini kami bayangkan,” ungkapnya penuh haru.

Kepala SMAIT Nur Hikmah Bekasi, Farkhatun, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar presentasi akademik, melainkan latihan kesadaran hidup bagi para siswa. Menurutnya, sekolah ingin membangun generasi yang tidak berjalan tanpa arah. “Anak-anak harus belajar mengenali dirinya, memahami tujuan hidupnya, lalu berani menyampaikan itu di hadapan orangtuanya sendiri. Di situlah tumbuh tanggung jawab, kedewasaan, dan kesungguhan. Pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai rapor, tetapi tentang membantu anak menemukan makna dan arah hidupnya,” jelas beliau.

Kegiatan ini menjadi salah satu potret pendidikan yang tidak hanya menyentuh aspek intelektual, tetapi juga relasi emosional antara anak dan orangtua. Di ruangan-ruangan sederhana itu, yang sebenarnya sedang dibangun bukan hanya proposal masa depan, melainkan jembatan harapan antara generasi. Sebab ada saat di mana orangtua tidak lagi sekadar melihat anaknya sebagai pelajar, tetapi mulai melihatnya sebagai manusia yang sedang menyiapkan jalan hidupnya sendiri.
