Skip to content
Ilmu Itu lebih baik dari kekayaan, karena kekayaan itu harus dijaga, sedangkan ilmu itu menjaga kamu.

(Ali Bin Abi Thalib).

Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

(Imam Syafi’i).

Suatu pengetahuan (ilmu) jika tidak manfaat untukmu, maka tidak akan membahayakanmu.

(Umar Bin Khathab).

“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.

(Abu Bakar As Shiddiq RA).

Menguatkan Kompetensi, Menjaga Kemurnian Al-Qur’an: 53 Guru Nur Hikmah Ikuti Sertifikasi Guru Tahfidz Metode Ummi

By | Published | No Comments

Komitmen Yayasan Wakaf Nur Hikmah Bekasi dalam membangun pendidikan Al-Qur’an yang berkualitas terus diperkuat. Selama dua hari, 30–31 Oktober 2026, sebanyak 53 guru Al-Qur’an di lingkungan Yayasan Wakaf Nur Hikmah mengikuti kegiatan In House Sertifikasi Guru Tahfidz Metode Ummi. Kegiatan ini diselenggarakan bersama Ummi Pusat Surabaya dan dikelola oleh tim Ummi Daerah Surabaya, dengan menghadirkan Ustadz Irwan dan Ustadz Masruri sebagai pemateri dan pendamping sertifikasi. Para peserta merupakan guru-guru Al-Qur’an yang telah memenuhi target dan persyaratan untuk mengikuti sertifikasi, yakni terlebih dahulu melewati ujian hafalan Al-Qur’an sebanyak dua juz.

Namun, kegiatan ini tidak sekadar menguji dan mengesahkan kemampuan hafalan para guru. Lebih dari itu, para peserta juga mendapatkan penguatan motivasi sebagai pengajar Al-Qur’an serta pembekalan metodologi pembelajaran tahfidz. Hal ini menjadi penting karena seorang guru Al-Qur’an tidak cukup hanya memiliki hafalan yang baik, tetapi juga harus mampu menghadirkan proses pembelajaran yang tepat, menyenangkan, terarah, dan menginspirasi peserta didik untuk semakin mencintai Al-Qur’an.

Melalui sertifikasi ini, Nur Hikmah berharap lahir guru-guru tahfidz yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga matang dalam kompetensi, kokoh dalam metodologi, dan memiliki keteladanan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Sebab, membangun generasi Qur’ani tidak cukup dengan menghadirkan program hafalan di sekolah. Dibutuhkan guru yang terus belajar, memperbaiki kualitas diri, dan menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar sesuatu yang diajarkan, melainkan nilai-nilai yang hidup dalam keseharian. Karena sebelum melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an, kita membutuhkan guru-guru yang terlebih dahulu menunjukkan kecintaannya kepada Al-Qur’an.