Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.
(Imam Syafi’i).
“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.
(Abu Bakar As Shiddiq RA).
By LPI nurhikmah | Published | No Comments
Megah gema adzan Bilal memecah keheningan Kota Madinah, laksana cahaya fajar membelah kegelapan malam, pertanda bangkitnya tubuh ba’da rehat penghapus kelelahan hari. Satu persatu datang. Para Sahabat mulai memenuhi masjid Nabawi. Satu waktu, Bilal pun mengetuk pintu Rasulullah, “Wahai Rasulullah, kami telah siap”. Rasulullah memasuki masjid. Sahabat telah berdiri. Berbaris, tegak, lurus, rapat, dan kokoh. Mereka tidak sedang berperang, mereka sedang menghadiri undangan Allah SWT.
Sebuah gurat lukisan keindahan yang tampak, bahkan sebelum matahari muncul dari ufuk. Gambaran kedisiplinan datang dari manusia terbaik. Melahirkan generasi terbaik sepanjang masa. Rasulullah sebagai model. Sahabat menginspirasi. Gelombang kebaikan datang dari peradaban yang terencana dan tersusun rapih.
Para sarjana tidak henti-hentinya terpukau, meneliti tentang apa yang menjadi kunci keberhasilan dakwah Rasulullah. Keberhasilan yang bukan hanya dilihat dari seberapa banyak pengikutnya saat ini, tapi dari sehebat apa generasi yang direncanakan itu, menjadi generasi terbaik. Marilah kita lihat bersama, sebatas kulit luar sejarahnya. Untuk mengetahui bagaimana generasi terbaik itu muncul.
Mengharapkan penulis menulis pembahasan ini, dengan komprehensif dan kongruen seperti apa yang pernah ditulis para cendikia sangatlah tidak bijak. Saat ini penulis hanya ingin memaparkan sebuah pemikiran sederhana, tentang objek yang luar biasa besar dampaknya. Dengan sedikit pendekatan membran tipis ilmu sosial dan gado-gado pengetahuan penulis yang kurang mendalam ini.
Struktur sosial
Di dalam halaman rumah Ilmu Sosial, pasti akan bertemu dengan sebuah struktur sosial. Secara sederhana struktur sosial adalah pembentuk masyarakat. Di dalam struktur itu ada sebuah tatanan, interaksi antar bagian dan pola dalam masyarakat itu sendiri. Struktur sosial memiliki elemen pembentuk. Elemen utama struktur sosial diantaranya; status sosial, peran sosial, norma dan nilai, lembaga sosial, dan kelompok sosial. Tanpa bermaksud membuat pembaca tersesat di dalam paragraf panjang yang terkesan ngalor dan ngidul ini. Mari kita masuk lebih dalam.
Status sosial kita kenal dengan kedudukan atau posisi orang dalam masyarakat. Status sosial pada zaman itu bisa dilihat dari pekerjaannya seperti pedagang, petani, peternak, penjaga, tentara dan pekerjaan lain. Selain itu, status sosial juga dipengaruhi oleh kedudukan dalam masyarakat seperti halnya kasta, ras, suku, bangsa, nasab, dan bahkan ekonomi, yang menjadi pandemi semenjak masa yang disebut sebagai zaman jahiliyah.
Peran sosial adalah sebuah perilaku yang diharapkan sesuai dengan peran atau kedudukannya. Seperti pemimpin atau khalifah yang menjadi pemegang tanggung jawab atas berjalannya segala urusan, Hakim yang mengurusi masalah yuridis, peran pemuda sebagai penggerak seperti Sahabat Usamah dan Mushab yang menjadi duta di Madinah.
Sedangkan norma dan nilai itu lebih kepada aturan dan prinsip yang membimbing tindakan individu agar selaras dengan harapan masyarakat. Pada zaman Nabi Muhammad Al Quran sebagai firman Allah diletakan sebagai Nilai yang harus dipatuhi oleh masyarakat dan akan melahirkan nilai-nilai kebaikan atau values dalam hidup. Sementara itu, lembaga sosial dan kelompok sosial adalah sebuah kristalisasi dari pandangan dan kesamaan yang terbentuk dari proses formal maupun informal.
Mata Uang Peradaban
Keberhasilan Rasulullah membimbing sahabat dan umatnya sehingga membentuk generasi terbaik yang melahirkan peradaban terbaik saat itu karena kecerdasannya dalam menetapkan sebuah tujuan bersama. Sebuah destinasi, titik pandang, dan arah perjalanan yang sama dalam peta sebuah zaman. Tujuan itu menjadi tolak ukur kesuksesan, barometer kehormatan dan kemuliaan cita-cita yaitu, sebuah norma, nilai, yang menjadi value kehidupan.
Norma dan nilai yang menjadi tujuan dalam masyarakat bersumber dari Al Quran dan syariat yang tersusun dan memoles kepribadian seorang individu menjadi lebih gagah dan tegap dalam kondisi apapun. Menciptakan aura elegan karena integritas dan menjadi kehormatan bagi setiap individu.
Lihatlah bagaimana Rasulullah menjadi contoh sebuah keteguhan dengan kalimat yang fenomenal, “Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya”. Kalimat yang memantapkan posisi norma dan nilai di atas klasemen setiap kepentingan dan urusan. Menutup celah negosiasi. Menjadi teladan integritas yang tiada bandingannya. Maka dengan itu, kita akan melihat dari mana embrio kehebatan sikap dan karakter para Sahabatnya dalam memegang teguh norma dan nilai, yang lebih tinggi daripada nyawanya sendiri.
Unggul dari peradaban lain
Sebetulnya jika kita tarik pertanyaan kenapa harus norma dan nilai (dalam hal ini Al Quran dan Syariat) yang harus ditetapkan sebagai nilai tertinggi?. Menurut penulis, selain karena memang perintah Allah, menetapkan norma dan nilai merupakan antitesis terhadap peradaban yang sudah lebih dulu establish. Pada masyarakat jahiliyah misalnya status sosial, menjadi ukuran tertinggi bagi kehormatan seseorang. Peradaban Yunani, meskipun yang tertulis menjunjung tinggi intelektualitas, pada realitanya harus mengalah pada kearoganan status sosial pada kelompok masyarakat. Peradaban barat pun demikian, mereka harus tunduk kepada kedigdayaan modal dan status ekonomi yang tinggi.
Mengukuhkan norma dan nilai pada posisi yang tertinggi akan menghasilkan keadilan yang benar-benar nyata bagi seluruh individu. Dalam catatan sejarah kita akan melihat kehormatan seorang Sahabat bernama Abu Dzar Al Ghifari yang kita kenal tanpa harta, terhormat di hadapan Sahabat lainnya, karena keteguhan yang tinggi dan mampu kritis terhadap keadaan sosialnya. Sahabat Abdullah bin Ummi Maktum, yang tunanetra, terlihat sangat mulia dihadapan sahabat lain karena begitu kuat dengan nilai yang dipegang. Bahkan, Abdullah bin Ummi Maktum menjadi sebab turunnya satu surat (abasa) yang menjadi teguran cinta dari Allah SWT karena nilai dan norma yang sedikit terdistraksi. Norma dan nilai menjadi betul-betul mata uang yang sangat berharga untuk diburu.
Mata Uang Masa Kini
Saat ini, norma dan nilai memang masih ditempatnya. Tapi, ia berdebu karena tak tersentuh, tak terlihat, bahkan asing dan usang karena putaran zaman. Memegang nilai menjadi kembali gharib tak lagi populer. Kita betul-betul terdistraksi dengan aneka aksesoris kehidupan yang tidak sadar menjadi tujuan utama kita, dan menjadikan norma hanya sebagai pemanis bangku cadangan. Kesuksesan terukur dengan banyaknya harta, jabatan, koneksi, dan pengikut. Sebuah tujuan yang sangat rapuh untuk diletakan di tempat tertinggi dalam kehidupan seorang individu.
Mudah-mudahan kita semua tidak termasuk ke dalam kelompok tersebut. Tetaplah bermadzhab kepada kehormatan, seperti yang diperjuangkan para generasi terbaik. Semoga Allah jaga kita tetap memegang teguh prinsip, norma, dan nilai sebagai sebuah bukti ketakwaan kita kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.
HK11