Skip to content
Ilmu Itu lebih baik dari kekayaan, karena kekayaan itu harus dijaga, sedangkan ilmu itu menjaga kamu.

(Ali Bin Abi Thalib).

Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

(Imam Syafi’i).

Suatu pengetahuan (ilmu) jika tidak manfaat untukmu, maka tidak akan membahayakanmu.

(Umar Bin Khathab).

“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.

(Abu Bakar As Shiddiq RA).

SMAIT Nur Hikmah: Saat Doa Menjadi Jembatan Menuju Impian

By | Published | No Comments

Kamis, 4 Juni, SMAIT Nur Hikmah menggelar kegiatan doa bersama menjelang pelaksanaan Ujian Akhir Semester bagi siswa kelas X dan XI. Kegiatan yang berlangsung hingga waktu berbuka puasa dan dilanjutkan dengan shalat Magrib berjamaah ini diawali dengan sambutan Kepala SMAIT Nur Hikmah, Farkhatun, yang mengajak seluruh siswa untuk mempersiapkan diri tidak hanya dengan belajar, tetapi juga dengan memperkuat ikhtiar spiritual. Suasana yang hangat dan khusyuk menjadikan kegiatan ini sebagai ruang untuk menenangkan hati sekaligus menumbuhkan optimisme menghadapi ujian.

Pada sesi kajian, Hafiz Raden Suken mengajak para siswa merenungi makna syukur melalui Surah At-Tin ayat 4, “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Beliau mengingatkan bahwa sering kali manusia lupa mensyukuri nikmat yang begitu dekat dengan dirinya. Bayangkan jika alis yang menghiasi wajah diletakkan di bawah mata, atau seluruh gigi yang kita miliki berbentuk geraham. Tentu wajah manusia tidak akan terlihat seindah dan seharmonis saat ini. Semua telah Allah atur dengan kesempurnaan yang menunjukkan kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya.

Beliau juga menekankan pentingnya menghargai waktu sebagaimana pesan Surah Al-‘Asr. Waktu adalah nikmat yang nilainya melampaui harta dan berbagai kenikmatan dunia lainnya. Dari waktu yang sama, lahir keberhasilan, ilmu, dan amal kebaikan. Pada akhirnya, setiap manusia memiliki cita-cita dan rencana terbaik untuk masa depannya. Namun sesempurna apa pun perencanaan yang dibuat, Allah SWT tetaplah Sang Pemilik Waktu dan Penentu segala takdir. Karena itu, tugas manusia adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh tawakal. Di sanalah ketenangan lahir, ketika cita-cita tidak hanya disusun dengan usaha, tetapi juga dititipkan kepada Dzat yang menggenggam masa depan.