BEKASI – Yayasan Wakaf Nur Hikmah Bekasi mulai mempersiapkan langkah strategis dalam mengembangkan kompetensi sekolah melalui penerapan model pembelajaran dua bahasa (bilingual learning) dan penguatan budaya berbahasa dalam aktivitas keseharian di lingkungan sekolah.

Program ini menjadi bagian dari rencana pengembangan mutu pendidikan Nur Hikmah ke depan. Tidak hanya berorientasi pada kemampuan berbahasa Inggris, pengembangan ini diarahkan untuk membangun ekosistem pembelajaran yang mendorong guru dan peserta didik semakin terbiasa menggunakan dua bahasa dalam proses belajar maupun interaksi sehari-hari.
Ketua Yayasan Wakaf Nur Hikmah Bekasi, Mahmud Anis Baswedan, S.Pd., menuturkan bahwa pengembangan kompetensi sekolah membutuhkan visi jangka panjang dan kesiapan sumber daya manusia. Menurutnya, perubahan kualitas pendidikan tidak cukup hanya dilakukan melalui pembaruan program, tetapi harus dimulai dari peningkatan kapasitas para pendidiknya.

” Kita ingin Nur Hikmah terus bertumbuh dan memiliki daya saing dalam menghadirkan pendidikan berkualitas. Pengembangan bilingual ini bukan semata-mata tentang kemampuan berbahasa, tetapi bagaimana kita membangun lingkungan belajar yang lebih terbuka, adaptif, dan mampu mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. Karena itu, prosesnya harus dipersiapkan dengan baik, dimulai dari para guru,” tuturnya.
Sebagai langkah awal, Yayasan Wakaf Nur Hikmah telah memulai proses penguatan kompetensi dengan melibatkan 10 guru terpilih dari seluruh satuan pendidikan, mulai dari KBTK, SDIT, SMPIT hingga SMAIT Nur Hikmah. Para guru tersebut mendapatkan pembinaan dan penggemblengan secara intensif untuk dipersiapkan menjadi tutor sekaligus penggerak pengembangan bilingual bagi rekan-rekan guru lainnya di masing-masing satuan pendidikan.

Dengan pola ini, pengembangan kompetensi tidak berhenti pada peserta pelatihan, tetapi diharapkan dapat ditularkan secara bertahap kepada seluruh tenaga pendidik. Para guru terpilih akan menjadi bagian dari proses pendampingan, berbagi praktik, dan membangun kebiasaan berbahasa di lingkungan sekolah.
Dalam proses penyusunannya, Yayasan Wakaf Nur Hikmah juga melakukan komunikasi dan diskusi dengan berbagai ahli, serta membuka ruang pertukaran pengalaman dan praktik baik (sharing best practices) dengan sekolah-sekolah lain yang telah lebih dahulu mengembangkan pembelajaran bilingual. Langkah ini dilakukan agar model yang diterapkan nantinya memiliki landasan yang tepat, relevan dengan kebutuhan sekolah, dan dapat dijalankan secara berkelanjutan.

Rencana besar ini turut dikawal langsung oleh Manajer Kurikulum Nur Hikmah Bekasi, Ustadzah Tina Afriani, S,Pd. Gr. bersama jajaran terkait, sehingga pengembangan bilingual dapat terintegrasi dengan arah kurikulum dan proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Melalui ikhtiar ini, Nur Hikmah ingin membangun lebih dari sekadar program bahasa. Ada proses perubahan budaya belajar, peningkatan kapasitas guru, serta penguatan kompetensi peserta didik yang sedang dipersiapkan secara bertahap.
Sebab, sekolah yang terus bertumbuh bukan hanya sekolah yang mengajarkan hal-hal baru kepada siswanya, tetapi juga sekolah yang tidak pernah berhenti belajar dan mengembangkan kualitas para gurunya.
