Skip to content
Ilmu Itu lebih baik dari kekayaan, karena kekayaan itu harus dijaga, sedangkan ilmu itu menjaga kamu.

(Ali Bin Abi Thalib).

Barang siapa belum pernah merasakan pahitnya mencari ilmu walau sesaat.
Ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

(Imam Syafi’i).

Suatu pengetahuan (ilmu) jika tidak manfaat untukmu, maka tidak akan membahayakanmu.

(Umar Bin Khathab).

“Tanpa pengetahuan, tindakan tidak berguna dan pengetahuan tanpa tindakan adalah sia – sia”.

(Abu Bakar As Shiddiq RA).

DZIKIR KEPADA ALLAH (1)

By | Published | No Comments

BERZIKIR, PERINTAH ATAU KEBUTUHAN?

Definisi zikir

Dalam sebuah definisi bahasa, dzikir berasal dari kata dzakara – yadzkuru yang artinya adalah mengingat atau menyebut. Sedangkan secara istilah akan kita temukan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ulama. Kita bisa merangkum dan mengambil definisi sederhana tentang dzikir yaitu, sebuah proses komunikasi antara sang makhluk dan Sang khaliq agar selalu mengingat dan tunduk terhadap segala perintah-Nya.

Dzikir adalah salah satu cara dalam Islam, agar manusia sebagai ciptaan selalu memiliki ketundukan yang sempurna dihadapan Sang Khaliq. Lebih dari pada itu, ulama tasawuf bahkan menganggap dzikir adalah sebuah karunia kenikmatan yang dihadiahkan Allah kepada hamba-Nya. Karena menurut mereka, semua hamba diberikan kenikmatan yang sama, seperti waktu, pengetahuan, dan kesempatan. Akan tetapi, tidak semua dari hamba-Nya diberikan karunia waktu, pengetahuan dan kesempatan untuk menikmati indahnya berdzikir.

Apa saja yang termasuk dzikir?

Menurut Ibnul Qayyim, dzikir bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan pujian, sifat dan nama-nama Allah. Yang termasuk pujian seperti yang telah khabarkan Rasulullah dalam hadits-haditsnya, seperti tahlil, tahmid, tasbih, dan lain-lain. Sementara sifat-sifat dan nama-nama-Nya seperti yang tertuang dalam asmaul husna. Selain itu, bisa dengan sebuah pernyataan seperti “Allah mengetahui setiap yang kita lakukan”, “Allah mendengar setiap perkataan kita”, dan sejenisnya. 

Kedua, mengingat perintah dan larangan-Nya yang tertuang di dalam Al Quran dan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ketika kita mengungkapkan bahwa Allah memerintahkan sesuatu kepada kita, menyebutkan perkara yang membuat Allah ridha, atau bahkan menyampaikan larangan-larangan-Nya itu semua termasuk ke dalam berdzikir. Seorang Sahabat Nabi Muadz bin Jabal mengatakan, segala sesuatu yang dilakukan untuk menghindarkan dari azab Allah, adalah termasuk dzikir. Oleh karena itu Imam Nawawi mengatakan di dalam kitabnya (tibyan fi adab hamalatil Quran) bahwa dzikir yang paling utama adalah membaca Al Quran. Karena di dalam Al Quranlah semua berasal, pujian, sifat-sifat, nama-nama Allah, semua perintah dan larangan-Nya.

Sebagai seorang hamba yang berusaha mendekatkan diri, terkadang ada sebuah pertanyaan muncul dari dalam diri kita, apakah dzikir sebuah perintah ataukah sebuah kebutuhan?. Sebetulnya pertanyaan tersebut, adalah sebuah pertanyaan yang tidak sulit untuk dijawab oleh akal kita. Akan tetapi, jika kita tanyakan kepada hati kita yang paling dalam, bagaimana kita memandang “dzikir”, apakah hanya sekedar perintah atau kebutuhan?, maka jawabannya tidaklah sesederhana itu.

Perintah atau Kebutuhan

Dzikir adalah sebuah perintah Allah di dalam Al Quran. Ada beberapa ayat di dalam Al Quran yang menunjukan perintah dan pentingnya berdzikir. Seperti di dalam Surat Ar Ra’d ayat 28, yang artinya, “Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”. Atau potongan akhir Surat Al Jumu’ah ayat 10 yang artinya, “… ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung”. Dari hadits Nabi Muhammad ada banyak hadits bertema pentingnya berdzikir. Salah satunya, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang artinya, “perumpamaan orang yang berdzikir dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti hidup dan mati”. Dan masih banyak lagi ayat dan hadits yang menunjukan perintah berdzikir. Banyaknya perintah dzikir ini menunjukan, betapa pentingnya dzikir di dalam Islam.

Secara sederhana perintah adalah segala sesuatu yang harus dilakukan. Sedangkan kebutuhan adalah segala yang harus dipenuhi agar sesuatu berjalan maksimal. Dengan demikian, apakah kita menganggap dzikir hanya sebuah perintah, ataukah dzikir sebuah kebutuhan hati kita?. Sebelum mengobservasi hati kita terlampau jauh. Mari kita ketahui perihal hakikat perintah, dan hakikat kebutuhan.

Hakikat sebuah perintah adalah materi yang harus dipahami oleh setiap hamba yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Mari kita menuju sebuah analogi sederhana tentang hal ini. Produsen kendaraan motor tentu akan memberikan panduan cara perawatan (manual book) untuk dipahami oleh pengguna. Ada sebuah aturan atau perintah misalnya, keharusan bagi si pemilik kendaraan untuk melakukan servis secara berkala. Kenapa harus servis secara berkala? Karena si produsen motor tersebut tentu paling tahu terhadap kebutuhan kendaraan yang telah dia buat sendiri. Aturan tersebut dibuat agar kendaran yang dibuat dapat beroperasi dengan maksimal. Begitupun hakikat perintah Allah yang harus dijalankan hamba-Nya. Sebuah perintah hakikatnya adalah kebutuhan yang harus terpenuhi oleh hamba-Nya, agar bisa maksimal dalam hidup. Lebih dari itu para ulama bahkan mengatakan bahwa hakikat perintah adalah sebuah kasih sayang Sang Khaliq kepada makhluk-Nya. 


Dari penjelasan tersebut, maka perintah dan kebutuhan harusnya kita pahami seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Perintah adalah sebuah kebutuhan, Jika kita menghujamkan hakikat perintah Allah, ke dalam hati kita, maka kita tidak akan lagi menganggap dzikir adalah sebuah kewajiban yang mesti dilakukan dengan atau tanpa pemaknaan. Akan tetapi, kita akan memandang dzikir adalah sebuah kebutuhan yang memang seharusnya kita lakukan agar kita bisa memaksimalkan hidup kita. (bersambung) HK11

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *